Asset 3 (3)

YAYASAN PENDIDIKAN ISLAM

UMMUL AYMAN

SAMALANGA-BIREUN-ACEH

Berita Terpopuler

JAG00124

“Woe u Rumoh Asai” IKABUA Gelar Silaturrahmi Alumni Bersama Waled H. Nuruzzahri

IMG_6786

“Haflah Takharruj” Warnai Perpisahan Santri Ummul Ayman

IMG_4977

Negeri Nun Jauh

IMG_4979

Berubah Tapi Tak Berbuah

ChatGPT Image 27 Apr 2025, 03.17.57

Rahasia Jodoh

Penyesalan Tak Lagi Bermakna

“Woe u Rumoh Asai” IKABUA Gelar Silaturrahmi Alumni Bersama Waled H. Nuruzzahri

Samalanga – Ada rindu yang tak bisa dijelaskan dengan kata. Ratusan alumni Dayah Ummul Ayman membuktikannya Minggu lalu (20/7), saat mereka pulang bersama ke Lampoh Saban, cabang keempat dari dayah tercinta, dalam rangka IKABUA ke-25 (Ikatan Keluarga Islam Ummul Ayman. Bertema “Mari Pulang untuk Menjemput Doa Ayah Bunda,” acara ini jadi ruang temu penuh haru antara murid dan guru, antara masa lalu dan hari ini.

Acara dimulai pukul 10 pagi. Mushalla sederhana yang menjadi pusat kegiatan, hari itu terasa istimewa. Wajah-wajah alumni lintas angkatan hadir membawa kenangan, duduk bersimpuh di tempat yang pernah mereka sebut rumah ilmu dan akhlak.

Di tengah suasana yang hangat, Tgk. Muhammad Amin, salah satu guru senior, menyampaikan pesan yang membekas:

“Kita semua bersaudara. Maka marilah sama-sama kita menjaga nama baik almamater dayah kita. Di manapun dan kapanpun kita bertemu sesama alumni, tetaplah saling menjaga.”

Kata-kata itu seperti tali yang merangkai kembali hati-hati yang pernah ditempa bersama di pesantren. Dan di atas semua itu, nasihat Waled H. Nuruzzahri—pendiri sekaligus ruh dari Dayah Ummul Ayman—menjadi pengikat yang paling dalam:

“IKABUA ini adalah ikatan antara murid dan guru. Atau lebih dari itu—antara anak dan orang tuanya. Ikatan ini tidak bisa dilupakan dan tidak dapat diputuskan oleh siapapun. Karena ini adalah ikatan yang penuh dengan ridha Allah dan restu Rasulullah.”

Tak ketinggalan, Ayahanda Waled, sebagai Pimpinan Dayah, menegaskan kembali makna pendidikan pesantren bukan sekadar belajar, tapi membentuk manusia:

“Di mana saja kalian berada, beuneuteupeu beut nyo ken untuk melahirkan teungku seumeubeut manteng. Tujuan kamo eseumeubeut untuk memperbaiki akhlak, supaya menjadi manusia yang berguna.”

Menjelang Dzuhur, acara ditutup dengan shalat berjamaah, diimami langsung oleh Waled. Lalu para alumni makan bersama. Duduk berjejer di atas tikar mushalla, mereka berbagi cerita, tawa, dan sesekali diam, menikmati rasa pulang yang utuh.

IKABUA ke-25 bukan sekadar temu kangen. Ia adalah cara para murid kembali mengisi gelas ruhani mereka. Sebab ada doa yang hanya bisa dititipkan lewat tatapan guru. Ada keberkahan yang hanya bisa diraih saat kita pulang dan bersimpuh kembali di hadapan orang-orang yang pernah mengajarkan makna hidup.

Dan mungkin, itulah makna sesungguhnya dari “menjemput doa Ayah Bunda.”

Kisah Inspiratif

Berita Terkini

.