Dewan guru Dayah Ummul Ayman Samalanga baru saja selesai menggelar Rapat Kerja (Raker) pada Rabu malam lalu (7/3).
Rapat yang dihadiri oleh seratusan guru (tidak termasuk guru putri) dari semua seksi itu mengangkat tema Evaluasi Kinerja Penerimaan Santri Baru Tahun 2018 & Pengukuhan Kerja Seksi.
Pimpina dayah, Tgk H Nuruzzahri Yahya (Waled Samalanga) yang memimpin langsung Raker tersebut dalam sambutannya sedikit banyak menyampaikan pesan-pesan inspiratif yang harapannya bisa menjadi batu loncat para teungku yang mengajar di dayah yang berdiri pada tahun 1990 silam itu.
Berikut beberapa point dari pesan yang Waled sampaikan:
1. Sebuah kebenaran yang tidak terorganisir dengan baik akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir dengan rapi dan baik.
2. Bekerja sesuai bidang yang telah diamanatkan dengan menjadikan nawaitu (keikhlasan) sebagai landasan dalam bekerja.
3. Sebuah keluarga yang merupakan organisasi terkecil saja butuh aturan, seperti adanya program Keluarga Berencana (KB) dua tiga anak saja, agar keluarga bisa terurus (Mungkin seperti itu). Maka kita perlu ambil hikmah dari sana. Namun sebenarnya sedikit banyak kuantitas bukanlah hambatan (terutama untuk sebuah Dayah), yang menjadi pusat perhatian disini justru organisasi (baca; dayah) itu terorganisir dengan baik.
4. Waled menganalogikan sebuah organisasi itu ibarat sapu lidi, dimana batang lidi jika hanya satu dua tidak bisa mengalahkan sampah kecil sekalipun. Sebaliknya jika lidi berjumlah banyak dan punya ikatan yang teratur (terikat rapi), tentu menghasilkan tenaga power sehingga bisa mengalahkan seukur manapun banyaknya sampah.
5. Meski demikian tidak selamanya sapu lidi itu kuat, ada kalanya dia melonggar atau patah seiring waktu. Maka perlu sering dikontrol, lihat pengikatnya jika mulai mengendur segera kuatkan kembali pengaitnya sehingga tidak ada satu lidipun yang terancam lepas dari ikatan. Begitu juga jika ada lidi yang patah segera gantikan. Dengan demikian fungsional sebuah sapu tetap efektif. Demikian pula halnya sebuah organisasi, butuh evaluasi dan jangan sampai lost control.
6. Jalinan komunikasi dan kerja sama yang baik (bersinergi) antar seksi atau bidang penanganan sesuai potensi.
7. Jauhi yang namanya miscommunication yang berakibat fatal terhadap Organizational Credibility itu sendiri.
8. Jangan ada (jiwa) penghianat dalam tubuh internal organisasi, seperti suka menyalahkan atau saling menyudutkan satu sama lain).
9. Teungku Dayah berperan tidak hanya sebatas sebagai pengajar (mu’allim) untuk peserta didik, tapi lebih kepada murabbi, mendidik, mengawasi, menginspirasi, mengembangkan potensi peserta didik sesuai bakatnya. Tak hanya membekali ilmu, tapi juga akhlak. Bahkan lebih luasnya mampu hidup berdikari, bertani, bersosial dan bermasyarakat (troh bak cara asah sikin beujeut).
10. Jika di luar sana ada pengajar yang memiliki durasi waktu sekian jam, seorang Teungku Dayah justru harus menyadari bahwa dirinya bertanggung jawab 24 jam terhadap anak didiknya.
11. Teungku Dayah juga harus multy fungsi. Bisa serta mampu menjadi guru di sekolah-sekolah atau lembaga-lembaga pendidikan formal (seumeubeut beuna, ngajar bak sikula pih beuna).
12. Sebuah Dayah jangan sampai istilahnya jika pimpinan sakit, maka Dayah ikut sakit. Dan jika pimpinan mati, maka Dayah pun mati. Maka disini setiap guru pengajar harus punya rasa memiliki terhadap Dayah yang didomisilinya.
13. Kebenaran (pendapat dalam sebuah organisasi) tidak dimiliki oleh pribadi satu orang, tapi lahir dari hasil musyawarah. (MY)
(Tulisan ini masih dalam tahapan proses editing)



