Warning: "continue" targeting switch is equivalent to "break". Did you mean to use "continue 2"? in /home/milikkit/ummulayman.or.id/wp-content/plugins/revslider/includes/operations.class.php on line 2858

Warning: "continue" targeting switch is equivalent to "break". Did you mean to use "continue 2"? in /home/milikkit/ummulayman.or.id/wp-content/plugins/revslider/includes/operations.class.php on line 2862

Warning: "continue" targeting switch is equivalent to "break". Did you mean to use "continue 2"? in /home/milikkit/ummulayman.or.id/wp-content/plugins/revslider/includes/output.class.php on line 3708

Warning: Creating default object from empty value in /home/milikkit/ummulayman.or.id/wp-content/themes/goodnews/framework/options/redux/ReduxCore/inc/class.redux_filesystem.php on line 29
Jabatan dalam Kacamata Sufi - YPI Ummul Ayman
Asset 3 (3)

YAYASAN PENDIDIKAN ISLAM

UMMUL AYMAN

SAMALANGA-BIREUN-ACEH

Berita Terpopuler

Penyesalan Tak Lagi Bermakna

Ustaz Misterius

Jubah Berdarah

IMG_4090

Pengumuman Kelulusan Santri Baru Tahun Ajaran 2025/2026

JAG00022

Haflah Khatham Al-Qur’an Bersama Ayahanda Waled

WhatsApp Image 2025-01-07 at 17.01.46

Pembangunan Jalan Hotmix di Dayah Ummul Ayman, Bukti Komitmen Bupati Mukhlis terhadap Pendidikan Islam

Abu Nawas, Pengarang Syair I'tiraf

Jabatan dalam Kacamata Sufi

Suatu ketika, pada masa keemasan peradaban Islam di Baghdad abad pertengahan, hidup seorang hamba Allah bernama Abu Nawas. Banyak yang tidak tau pasti siapa sebenarnya Abu Nawas itu. Ada yang mengira bahwa ia adalah seorang cendikia, ilmuan, ulama, penyair, pujangga bahkan sebagian menganggapnya orang gila. Itu semua hanyalah perkiraan. Karena nyatanya, Abu Nawas adalah seorang sufi yang sangat dekat dengan Tuhan.

Ayahnya adalah seorang qadhi kerajaan kala itu. Saat ayahnya jatuh sakit, ia dipanggil oleh sang ayah yang hendak meninggalkan wasiat. Abu Nawas mendengarkan sang ayah berpesan, Wahai anakku, janganlah sekali-kali kamu menjadi qadhi… Abu Nawas heran, Mengapa aku tak boleh menjadi seorang qadhi? Bahkan engkau pun seorang qadhi. Sang ayah menjawab, Wahai… Coba kau cium telinga kiri dan kananku Abu Nawas menuruti perkataan sang ayah. Saat itu, ia mendapati telinga kanan ayahnya yang harum semerbak wangian surga. Tapi ia mencium bau bangkai yang teramat busuk dari telinga kiri ayahnya. Ia bertanya mengapa hal itu terjadi? Ayahnya menjawab, Anakku, kau tau bahwa aku adalah seorang qadhi taat lagi adil. Tak ada yang aku dhalimi saat aku menjadi qadhi.Tapi sayang, itu hanyalah dhahirnya saja. Di luar sana masih ada orang yang kudhalimi meski aku tak sadar. Di satu sisi, aku telah berbuat adil. Namun di sisi lain, aku telah berbuat dhalim. Itu sebabnya telinga kananku harum semerbak karena keadilanku dan telinga kiriku berbau busuk sebab kedhalimanku. Wahai anakku… Aku wasiatkan kau agar jangan pernah menjadi seorang qadhi.

Sepeninggalan ayahnya, Abu Nawas bingung. Kerajaan pasti akan mencari pengganti qadhi. Dan orang yang dituju kerajaan pastinya dia. Itu karena dialah orang yang paling alim saat itu setelah ayahnya. Abu Nawas teringat pesan ayahnya. Keputusannya pun telah bulat. Ia akan berpura-pura menjadi orang gila. Sehingga kerajaan tidak jadi melantiknya. Saat itulah orang-orang mulai menganggapnya sebagai orang gila. Hingga ia tak pernah lagi dianggap sebagai manusia terhormat. Lihatlah Abu Nawas. Ia adalah seorang sufi yang sangat kecil kemungkinan akan berbuat dosa. Tapi apa yang dilakukannya saat ia tau akan menanggung sebuah jabatan yang bahkan sangat mudah untuk ia jalankan? Abu Nawas lebih memilih berpura-pura gila ketimbang harus menaggung beban. Tapi kita? Kita malah mengejar-ngejar jabatan tanpa mau tau kensekwensinya. Nah!

Artikel oleh Fadhil Mubarak Aisma

Kisah Inspiratif

Berita Terkini

.