Sebanyak 12 orang mahasantri Dayah Ummul Ayman Samalanga yang akan melanjutkan studi ke luar negeri tahun ini dipeusijuek (ditepungtawari) oleh pimpinan dayah, Tgk H Nuruzzahri Yahya atau Waled Nu Samalanga.
Acara peusijuek digelar di Mushalla Ar-Rahmah dayah setempat pada Sabtu malam kemarin, 15 September 2018, tepatnya ba’da shalat isya.
Kabarnya, ke 12 mahasantri ini akan berangkat ke Mesir dan Yaman (masing-masing enam orang) dalam waktu dekat ini.
Mahasantri adalah sebutan untuk santri Ummul Ayman yang telah selesai mengikuti program belajar enam tahun (tamat kitab Fathul Mu’in sederajat) dan sedang belajar kitab Almahally-Syarah Minhaj.
Sebelum melakukan peusijuek, Waled terlebih dulu memberikan tausiah singkat yang disaksikan seribuan santri dan guru. Dalam tausiah tersebut, kepada mahasantri itu Waled berpesan agar selama disana nantinya dapat mengikuti proses ta’allum (belajar) dengan baik tanpa membuang-buang waktu dan kesempatan yang ada.
Waled juga berpesan agar nantinya mahasantri dimaksud dapat menggali dan membawa pulang ilmu dan amal sesuai dengan apa yang selama ini telah diajarkan di Ummul Ayman terutama di bidang akidah. Tidak mudah terkontaminasi dengan ideologi atau ajaran-ajaran menyimpang yang tidak sesuai dengan konsep dasar Ahlussunnah wal Jama’ah.
“Jangan sampai itu (yang dibawa pulang) nantinya bukan seperti punya kita semula”, imbuh Waled.
Pesan itu disampaikan Waled mengingat dewasa ini telah banyak muncul pemahaman keliru oleh kelompok-kelompok tertentu dengan stetmen agama yang begitu meresahkan. Sehingga perlu adanya ekstra kehati-hatian.
Harapan Waled pula, agar ilmu yang di bawa pulang nantinya sesuai dengan faham Ahlussunnah wal Jama’ah dan bermazhab, untuk kemudian dapat dituangkan kepada masyarakat dan Ummul Ayman sebagai “rahim” yang merupakan almamaternya.
“Mudah-mudahan kamu ini semua akan membawa pulang ilmu (dari) Mesir yang Ahlussunnah wal Jama’ah, ilmu Mesir yang bermazhab, untuk dapat kamu taburkan di Aceh, lebih-lebih untuk adek-adek nantinya di Ummul Ayman”.
Pada kesempatan itu Waled juga kembali menegaskan bahwa Ahlussunnah wal Jama’ah adalah bertauhid seperti yang telah dirumuskan oleh Abu Hasan Al-Asy’ary dan Abu Mansur Al-Maturidy, beramal Tasawuf dengan Tasawufnya Imam Al-Ghazaly dan Junaid Al-Baghdady, serta dalam beramal Fiqh tidak terlepas dari mazhab yang empat, khususnya di Aceh bermazhab Syafi’i. Dan itulah yang selama ini ditanamkan di dayah yang mula beroperasi pada 1990 silam.
“Jangan sampai kamu nantinya berlawanan dengan apa yang telah kami ajarkan disini. Apa yang kita ajarkan disini? Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah, dan beramal menurut mazhab (yang empat) terutama mazhab Syafi’i, dan bertasawuf menurut thariqah Imam Al-Ghazaly dan Imam Junaid Al-Baghdady”, terang Waled dengan nada tanya jawab yang merupakan gaya khasnya setiap memberikan materi. (MY)





