Warning: "continue" targeting switch is equivalent to "break". Did you mean to use "continue 2"? in /home/milikkit/ummulayman.or.id/wp-content/plugins/revslider/includes/operations.class.php on line 2858

Warning: "continue" targeting switch is equivalent to "break". Did you mean to use "continue 2"? in /home/milikkit/ummulayman.or.id/wp-content/plugins/revslider/includes/operations.class.php on line 2862

Warning: "continue" targeting switch is equivalent to "break". Did you mean to use "continue 2"? in /home/milikkit/ummulayman.or.id/wp-content/plugins/revslider/includes/output.class.php on line 3708

Warning: Creating default object from empty value in /home/milikkit/ummulayman.or.id/wp-content/themes/goodnews/framework/options/redux/ReduxCore/inc/class.redux_filesystem.php on line 29
Islam Tidak Menzalimi Wanita - YPI Ummul Ayman
Asset 3 (3)

YAYASAN PENDIDIKAN ISLAM

UMMUL AYMAN

SAMALANGA-BIREUN-ACEH

Berita Terpopuler

IMG_4090

Pengumuman Kelulusan Santri Baru Tahun Ajaran 2025/2026

JAG00022

Haflah Khatham Al-Qur’an Bersama Ayahanda Waled

WhatsApp Image 2025-01-07 at 17.01.46

Pembangunan Jalan Hotmix di Dayah Ummul Ayman, Bukti Komitmen Bupati Mukhlis terhadap Pendidikan Islam

0001

MADING JANUARI 2025

IMG_2720

Penerimaan Santri Baru Dayah Ummul Ayman Tahun 2025/2026

0001

MADING DESEMBER 2024

Islam Tidak Menzalimi Wanita

qwTelah bergulir sebuah syubhat yang dilemparkan orientalis dan kaum Liberal dalam lambung masyarakat Islam tentang qawamah rajul a’la al-Marah (laki-laki pelindung bagi wanita). Syubhat ini lahir dari kesalahpahaman mereka terhadap firman Allah surat an-Nisa’ ayat :34.

Menurut mereka, Islam telah mendhalimi kaum hawa lantaran menjadikan laki-laki sebagai Qawwamah bagi perempuan. Bahkan mereka berani menyakatan Al-Quran tidak relevan lagi dengan zaman sekarang ini. Karena hari ini banyak wanita yang karirnya lebih hebat ketimbang laki-laki.

Selain itu, ada wanita-wanita hari ini yang mempunyai sifat keberanian melebihi kaum adam. Sejatinya pada saat seperti ini, wanitalah yang menjadi pemimpin (qawwamah) bagi laki-laki. Bukankah ini menjadi bukti bahwa Al-Quran hanya diturunkan untuk masa tertentu? Pungkas kaum sesat tersebut.

Sangat disayangkan, banyak ummat Islam hari ini yang masih belum paham dengan benar akan isyarat ilahi dalam ayat di atas (an-Nisa’ ayat 34). Sehingga tidak sedikit dari ummat Islam menjadi icon dalam mengembangkan pikiran sesat mereka!

Tidak diragukan lagi bahwa pelopor syubhat ini adalah orang kafir yang anti-Islam, atau orang Islam yang telah teracuni dengan virus sesat mereka.

Kita sangat yakin bahwa syubhat tersebut lahir disebabkan oleh kebodohan mereka dalam memahami bahasa Arab. Jika mereka menguasai bahasa Arab dengan benar, syubhat ar-Rijalu qawwamuna a’la an-Nisa’ pasti tak akan digaungkan.

Jadi, syubhat-syubhat yang dilemparkan orientalis dan kaum liberal ke dalam Islam disebabkan oleh pribadi mereka yang salah memahami Islam. Seandainya kaum sesat itu mau mengkaji Islam melalui jalur yang benar, saya yakin mereka pasti akan bertekuk lutut untuk menerima Islam sebagai agama yang tidak akan diperjual belikan.

Baiklah, sekarang saya akan membeberkan kekeliruan mereka dalam memahami makna qawwamat ar-rijal. Mari kita lihat dalil mereka surat an-Nisa’ ayat 34 dalam mengampayekan bahwa Islam memarginalkan wanita;

‘Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita’ (QS: an-Nisa’ :34).

Untuk membantah tuduhan mereka, kita harus memahami terlebih dahulu apa itu makna Qawwamah? Apakah sama qawwamah dengan al-Walayah?

Syekh Al-Buthi dalam bukunya, ‘La Yaktihi al-Bathil’ mengungkapkan bahwa antara Qawwamah dan al-Walayah memiliki makna yang berbeda. Karena itu, Allah Swt dalam surat an-Nisa’ ayat :34 menetapkan (afirmasi) laki-laki sebagai pemimpin wanita (qawwamah). Sementara pada surat at-Taubah ayat :9 Allah Swt memberikan ‘al-Walayah’ bagi laki-laki dan perempuan. Tanpa menafikan (nagasi) al-walayah bagi wanita.

Firman Allah, ‘Dan orang yang beriman, lelaki dan perempuan sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain’ (QS: at-Taubah :71).

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Islam menjadikan laki-laki sebagai pemimpin (qawwamah) wanita. Sementara Islam tidak menafikan perempuan sebagai penolong (al-Walayah) bagi laki-laki, dan laki-laki menjadi penolong bagi wanita.

Lantas apa itu qawwamah dan apa itu al-Walayah? Sehingga Islam hanya memberikan ‘al-Walayah’ bagi wanita?!

Islam menjadikan seseorang sebagai wali atau penolong (al-Walayah) bagi orang lain, jika orang tersebut belum mampu menjaga dirinya atau hartanya sendiri. Misalnya, seorang anak kecil (laki-laki atau perempuan) memiliki harta berlimpah, punya mobil mewah, kebun luas, dan rumah bertingkat. Islam tidak memberi izin bagi anak tersebut untuk menggunakan hartanya sebelum rusyud tanpa izin dari walinya. Sebut saja wali anak itu orang tuanya, pamannya atau karabatnya jika orang tuanya sudah meninggal.

Seorang laki-laki yang boros atau laki-laki gila yang punya harta berlimpah. Islam menjadikan wali (al-Walayah) bagi dia untuk menjaga hartanya. Dia tidak boleh menggunakan hartanya semena-mena tanpa izin dari walinya. Begitu pula halnya dengan seorang wanita yang belum mampu menjaga harta atau dirinya.

Karena itu, dalam Islam laki dan perempuan sama-sama memiliki al-Walayah bagi diri mereka. Seorang suami suka-suka hatinya menggunakan hartanya jika sudah rusyud. Begitu juga perempuan.

Seorang suami ingin membeli mobil mewah dengan hatanya, silahkan. Itu kan harta dia. Seorang istri ingin membeli alat kosmotik yang paling mahal di dunia dengan harta dia, silahkan. itu kan hartanya. Seorang suami tidak ada hak untuk memaksa istrinya jangan belik ini itu, jika sesuatu yang akan dibelik itu bukan hal yang terlarang dalam agama. Begitu juga sebaliknya.

Jadi dalam kontek walayah, Islam sama sekali tidak memarginalkan wanita. Antara laki-laki dan perempuan punya hak yang sama dalam al-Walayah. Saya rasa Anda sudah paham dengan pengertian al-Walayah. Sekarang mari kita telusuri makna Qawwamah.

Adapun Qawwamah adalah seseorang yang mengurus sebuah perkara. Dia yang bertanggung jawab atas maju dan mundurnya perkara tersebut. Misalnya, seorang suami ia menjadi qawwamah bagi keluarganya. Apa pun yang terjadi dalam keluarga, maka dia yang akan bertaggung jawab. Agar anak dan suami tidak lapar, maka atas suaminyalah dipundakkan perintah mencari nafkah. Anak atau istrinya bermaksiat, maka suaminya yang bertanggung jawab.

Saya rasa Anda telah menemukan perbedaan antara Qawwamah dan al-Walayah. Saya ulangi sekali lagi, bahwa Islam memberikan walayah bagi laki-laki dan perempuan. al-Walayah akan berfungsi bagi orang-orang yang belum mampu manjaga dirinya atau hartanya. Sedangkan Qawwamah sebuah gelar yang diberikan kepada seseorang untuk menjaga keluarganya meskipun keluarga dia semuanya sudah mampu menjaga dirinya masing-masing.

Setelah mengetahui makna qawwamah, Anda pasti akan bertanya. Siapakah yang berhak dijadikan qawwamah (pemimpin) dalam sebuah keluarga? Suami atau istri?! Saya rasa tabiat manusia dari dulu telah menjawab pertanyaan ini sebelum saya jawab. Bahwa yang berhak menjadi pemimpin (qawwamah) bagi sebuah keluarga adalah suaminya.

Pernahkah Anda membayangkan akan sebuah keluarga yang sedang terlelap dalam ketiduran. Tiba-tiba di kesunyian malam terdengar suara gemuruh di luar rumahnya. Yang membuat anak-anak mereka bangun ketakutan mendegar suara tersebut. Siapakah yang akan bangun di tengah malam seperti ini untuk menjaga dan menenagkan keluarganya? Masih adakah yang tidak tahu jawabannya?!

Kisah Inspiratif

Berita Terkini

.