Asset 3 (3)

YAYASAN PENDIDIKAN ISLAM

UMMUL AYMAN

SAMALANGA-BIREUN-ACEH

Berita Terpopuler

_YUA0360

Wisuda di Dayah Ummul Ayman Samalanga: 273 Santri Berbahagia Menyelesaikan Perjalanan Pendidikan

DSC09409

Pengumuman Kelulusan Santri Baru Tahun Ajaran 2024-2025

IMG-20240201-WA0073

10 Tahun Jadi Sarjana : STIS Ummul Ayman Wisudakan 130 Mahasiswa/i

IMG-20240125-WA0044

Berkilau di Bawah Cahaya Ilmu: Yudisium angkatan ke-3 STIS Ummul Ayman Mengabadikan Prestasi 130 Lulusan.

_YUA6753

Kapolres Bireuen Sosialisasikan Bahaya Kenakalan Remaja dan Narkoba di Dayah Ummul Ayman Samalanga

DSC00579

Seminar Nasional di YPI Ummul Ayman, Angkat Tema ‘Runtuhnya Khilafah Usmani dan Munculnya Negara Bangsa,’

Covid-19: Meniti Asa Karena Allah Punya Rencana

Oleh Akram Alfarasyi*

Pandemi yang sampai sekarang melanda altar kekuasaan manusia di persada bumi tentu tidak hanya melelahkan, tapi juga memicu lahirnya skeptisme di benak sebagian orang.

Jelas musibah ini memaksa semua lapisan masyarakat untuk rekalibrasi (menata ulang cara hidup) di skala besar-besaran. Pendidikan, hukum, politik, ekonomi, maupun aspek agama, semuanya ikut dalam proses perubahan menuju gaya baru.

Dalam kehidupan keagamaan, begitu tampak bagaimana kita dituntun menuju kondisi tak biasa. Katakanlah Haji yang tahun ini  di Indonesia mesti tertunda pelaksanaannya. Ibadah setahun sekali, di 2020 daftar haji Indonesia dari berbagai penjuru mesti ditangguhkan dulu keberangkatannya.

Sebuah pertanyaan simpel, lumrah dalam perundingan kedai kopi akhir-akhir ini adalah “Jika Tuhan Maha Kuasa, Mengapa Ia Tak Segera Mengakhiri Ini Semua?”

Saya pikir pertanyaan di atas amat manusiawi. Kodrat makhluk yang notabene sosok penuh kelemahan, pastilah mengharap dan menagih Tuhannya perihal kebahagiaan hidup. Tampak tidak bermoral jika orang yang kala dilontar pertanyaan serupa malah hardikan balasannya.

Lantas apa sebenarnya skenario yang sedang terbangun? Mengapa belum ada kata finish pada masa sulit ini?

Untuk menjawabnya, mari menghayati tiga poin penting! Pertama, kita adalah mikrokosmis, substansial kecil dari berbagai objek besar lainnya. Jangankan manusia, bumi saja hanya seperkecil dari Bima Sakti.

Kedua, walau bak debu, nyatanya manusia adalah objek terbaik dari objek lainnya. Wujud manusia tidak sama kualitasnya dengan wujud selainnya. Itulah mengapa manusia berada pada tingkatan kedua di eskalasi maratibul wujud. Tingginya wujud manusia tentu karena keberadaannya yang produktif. Hewan, Tumbuhan, walau sesama makhluk hidup, tetaplah tak punya potensi merancang sebuah menara besar.

Ketiga, Peringkat pertama adalah wujud mutlak Tuhan. Di mana dengan adanya Tuhanlah kata “ada” itu ada.

Dalam Ihya’ Ulum al-Din, juz pertama, Imam al-Ghazali (w. 1111) menulis sebuah bab khusus bertajuk “Kitab Qawa’id al-‘Aqaid“. Di sana ia menjabarkan ulang bagaimana aqidah Islam sesuai doktrin Asy’ariyah dan Maturidiyah, dua mazhab teologi utama dan mayoritas di tubuh Islam.

Di antara yang Imam al-Ghazali mantapkan adalah konsep ketidakterikatan Tuhan dengan hukum alam (sunnatullah). Gravitasi, alasan ilmiah mengapa benda-benda langit berputar pada porosnya, tidaklah memaksa Tuhan untuk mengikuti patron itu. Tapi kerangka fenomena tersebutlah yang secara bebas dibentuk oleh Tuhan.

Mazhab Asy’ariyah dan Maturidiyah meyakini kekuasaan mutlak Tuhan. Kemampuan-Nya yang tak terbatas adalah perawakan wujud-Nya yang sempurna. Dan bahwa semua yang dilakukan-Nya adalah berdasarkan iradah-Nya. Tuhan Muridun (Tuhan Maha Berkehendak). Persis seperti kondisi bumi saat Covid-19 menyerang, realita tersebut bagian dari rancangan Ilahi karena Ia berkuasa.

Di sinilah letak kerelaan manusia selaku makhluk atas apa yang Tuhan rencanakan. Manusia dengan akalnya mampu menalar sebab dan memprediksi musabbab dari sebuah fenomena. Tapi awam –jika enggan menyebutnya tak mampu– tentang apa rahasia di balik fenomena terkait. Terkadang manusia memahami “mengapa dan apa” seringkali pasca kejadian. Hal yang mengindikasikan lemahnya akal manusia.

Secara dhahiriyah, tampak masa pandemi bukan hanya potret penderitaan, tapi mendorong munculnya new culture dan berbagai hal positif lainnya.

Indonesia negeri multietnis yang dihuni masyarakat kosmopolitan. Kita tak sungkan dan begitu mudah mengadopsi budaya baru. Masker, jaga jarak, cuci tangan, walau tak sepenuhnya hal baru namun aktivitas demikianlah yang kiranya mendongkrak kemampuan survival dan kesehatan kita.

Di pinggiran jalan via televisi dapat disaksikan bagaimana bangsa ini saling membahu; membantu sesama. Aksi solidaritas di mana-mana, kedamaian saat semuanya bersatu melawan musuh yang sama, Covid-19. Belum lagi metode belajar jarak jauh ala online jika sewaktu-waktu hal serupa kembali terjadi. Tentu hal yang tidak mudah terbentuk.

Terlepas dari kesukaran yang sedang dilalui, benar bahwa Tuhan menyiapkan alur baru bagi manusia. Di setiap realisasi qudrah-Nya, pastilah terselubung hikmah agung untuk dinikmati bersama.

Inilah poin inti Imam al-Ghazali yang menitikberatkan rasa percaya (realitas pragmatis) pada apapun jalan hidup. Manusia salah jika berhenti melangkah, mestinya terus berjalan. Sampai menemui bahwa Tuhan ada untuk kita semua.

*Akram Alfarasyi, santri Dayah Ummul Ayman Samalanga, dan mahasiswa di STIS Ummul Ayman Pidie Jaya.

Editor: Fadhil Mubarak Aisma

Kisah Inspiratif

Berita Terkini

.